GenPI Lampung – Budaya tidak pernah berakhir, selalu ada yang baru. Selalu ada bentuk kesenian yang baru, gerak tari, lagu, lukisan. Budaya adalah kisah tanpa akhir. (Maisie Junardy, Man’s Defender)
Sejak viral taman sakura ala Jepang di Bandar Lampung, kuliner Korea, dan banyak lagi kebudayaan asing yang singgah. Yang terjadi sebaliknya kebudayaan leluhur makin hilang, pertanyannya; Apakah kurikulum sekolah tidak pernah mampu melestarikan kebudayaan leluhur? Apakah kita sebagai bangsa tidak pernah bangga terhadap ribuan warisan kebudayaan Nusantara?
Seno Gumira Ajidarma pernah berpendapat, kehilangan bahasa daerah tidak pernah dianggap kerugian oleh negara karena bahasa seolah dianggap tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi. Padahal bahasa adalah pintu masuk mengenal potensi yang ada pada sebuah suku tertentu. Tentu ini sejalan dengan keresahan hilangnya beberapa bahasa daerah dengan segala tradisi adat istiadat di dalamnya.
Lalu apa yang menarik misal dari Taman Sakura ala Jepang dan kuliner ala-ala Korea. Propaganda film dapat mengubah generasi menjadi tidak kritis dan terbiasa atas apa yang ditonton. Ruang, interior, arsitektur, gaya pakaian, makanan, musik, rambut, dan lainnya akan menjadi belanja konsumsi tinggi. Serangan film Korea tentu cukup ampuh mengubah pola pikir dan gaya hidup generasi. Apakah itu terjadi hari ini? Sejak film Hollywood dan Bollywood ditonton, setiap generasi merasakan dampak yang dihasilkan dari sebuah film.
Sebagai sebuah pengetahuan atau wawasan, film-film asing Ini tidak perlu ditanggapi dengan gerakan anti-antian. Tapi sebagai bangsa yang punya kekayaan budaya, kita patut bertanya kenapa kebudayaan Nusantara tidak kita genggam erat dan terus dikembangkan menjadi satu gerak dinamis dalam kolaborasi aspek pendidikan, sosial, ekonomi dan lainnya.
Hadirnya teknologi sangat mendukung promosi budaya lokal agar dapat dinikmati dalam skala yang lebih luas. Menurut Romo Y.B. Mangunwijaya, Penganggapan ada dialektika Teknologi vs. Kebudayaan tidaklah betul. Kedua hal itu bukan tesis-antitesis, karena teknologi pun adalah bagian konstitutif dari kebudayaan. Ataukah di sini kebudayaan seperti salah kaprah ditafsir, diidentikkan dengan kesenian?
Jika orang memakai baju kimono dengan background Jepang, makanan ala Korea, sampai idola laki-laki ala Korea, kita harus akui 2 negara itu hebat dalam branding promosi. Lalu ketika ada rumah adat Lampung tidak menarik dikunjungi, makanan Lampung tidak ada yang resah untuk dikembangkan melalui kolaborasi dengan tempat wisata, juga tarian Lampung hanya serimonial di pemerintah tidak hadir di tempat wisata, nyanyian gitar tunggal tidak dilestarikan, kerajinan lokal makin hilang, pengrajin Tapis makin menyusut, kita khawatir kebudayaan ini sedang tercerabut pelan-pelan dan hanya akan menjadi catatan sejarah.
Dalam 17 Sub-sektor Ekonomi Kreatif semua budaya di Indonesia hampir punya ciri khas tersendiri dari mulai arsitektur rumah adat, desain interior, kuliner, fashion, kriya, tarian, nyanyian, dan segudang potensi yang belum digali kembali lebih jauh atau dikembangkan lebih kreatif di tengah arus modernitas. Jika rumah makan Padang bisa menjamur dimana saja, saya yakin rumah makan nyeruit akan bisa menyebar dimana saja plus dengan tampilan tentang budaya Lampung secara komprehensif.
Kita yakin dengan kolaborasi konsep Pentahelix, Konsep 3A Wisata, Marketing Digital, Pemberdayaan Masyarakat, Social Mapping, Ekonomi Kreatif, semua kekayaan budaya ini akan menjadi kebanggaan bukan hanya masyarakat asli Lampung, tapi kebanggaan semua masyarakat yang tinggal di Lampung. Apa yang berkualitas selalu akan dicari, makanan yang lezat diujung manapun pasti akan diburu. Keindahan dimana saja, yang memberi kepuasan akan dikunjungi oleh banyak orang. Mari Kolabor_aksi.
Penulis : Dharma Setyawan (DRD Lampung Tengah & Pembina GenPI Lampung)


