GenPI Lampung – Saya punya kawan-kawan yang memiliki banyak media online. Istilah mas Dede Saylendra Lampung ini sukses beternak media. Saya kira iklimnya memang begitu. Bahkan di beberapa daerah, beberapa Kabupaten ada yang MoU dengan ratusan media. Ada beberapa persoalan yang muncul yaitu sertifikasi aturan organisasi bagi para pemilik media . Setahu saya di kota Metro yang muncul organisasi dan terlihat seperti PWI, AWPI, KWRI, JNI, AJOI, IWO, HPI, SMSI, di Bandar Lampung ada AJI dan organisasi lainnya yang mencoba untuk membenahi kualitas para jurnalis. Tentu para senior wartawan sudah memikirkan bagaimana sertifikasi pemilik media ini penting sebagai bentuk profesionalitas.
Selanjutnya Dinas Kominfo di daerah memiliki aturan main media, apa saja yang layak kolaborasi untuk mendorong terbangunnya sinergitas positif dan keterbukaan informasi. Mantan ketua PWI Metro, senior saya di SMA N 1 Kotagajah Bang Abdul Wahab mungkin kelak dapat bercerita bagaimana jurnalisme di kota ini menjamur dengan berbagai SDM yang bervariasi. Perlu diingat tuntutan jurnalisme bukan hanya menyorot persoalan politik atau memberitakan secara masif apa yang pemimpin lakukan. Perlu ada sorotan kamera dan pena ke titik lain misal ekonomi, budaya, lingkungan hidup, pendidikan, pertanian dan tindakan kecil warga di sudut-sudut RT dan RW.
Di Lampung Tengah MoU dinas Kominfo dengan media berjumlah 387 media, sedangkan jumlah kampung di Lampung Tengah ada 301 kampung dan 10 kelurahan. Artinya jumlah media dengan desa melampui. Pertanyaannya, kenapa media tidak menyorot desa-desa yang mungkin ada hal menarik, potensi ekonomi, gerakan kreatif? Jika 1 media menyorot 1 desa dengan berbagai persoalan positif dan negatif akan terjadi informasi yang dinamis.
Kualitas jurnalisme tentu harus ditingkatkan. Pemberitaan positif dan negatif selalu punya dampak masing-masing. Yang jelas semua kepala desa itu masih butuh informasi yang inspiratif, banyak kepala desa mengendalikan uang lebih dari 1 miliar tapi bingung mau memulai dari mana? Disinilah peran jurnalisme ikut membantu sekaligus kritis dalam pengelolan media. Melatih SDM desa agar melek media, membantu promosi potensi ekonomi dan konsisten dalam branding desa.
Diluar media website saya mengamati, negara ini sangat terbantu dengan para konten kreator. Ada akun instagram dengan follower ratusan ribu misal Lampunggeh. Ada youtuber dengan 1,8 juta subacribe misal Muhammad Sidik warga Yosomulyo Metro. Para konten creator yang memiliki follower ratusan ribu dan jutaan ini jelas mengalahkan ratusan media di Lampung tengah dengan jumlah 387 media. Maka perlu ada sinergi saling belajar dan membangun kreatifitas. Instagram dan youtuber ini tidak mendapatkan uang dari pemerintah, mereka mendapat uang dari endorse swasta dan membantu dunia usaha terus tumbuh. Diskominfo harus sinergi dengan organisasi media agar jurnalisme terus tumbuh secara profesional pemberitaan berkualitas baik kritik atau pujian dan para konten kreator diajak kolaborasi agar dapat membantu promosi daerah ke tingkat nasional.
Penulis : Dharma Setyawan (Pembina GenPI Lampung)


