Sabtu, Juni 6, 2026
  • FAQ (Pertanyaan Terkait GenPI)
  • Home
  • Kirim Konten
  • Kontak
  • Pengurus GenPI Lampung
  • Redaksi
  • Tentang Blog
  • Tugas dan Peran Pengurus GenPI
  • Login
Genpi Lampung
  • Home
  • Berita
  • Destinasi
  • Ekraf
  • Kuliner
  • Foto
  • Opini
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Genpi Lampung
  • Home
  • Berita
  • Destinasi
  • Ekraf
  • Kuliner
  • Foto
  • Opini
No Result
View All Result
Plugin Install : Cart Icon need WooCommerce plugin to be installed.
Genpi Lampung
No Result
View All Result
Home Berita

Perempuan dan Gerakan Lingkungan

by Redaksi GenPI
22 September 2021
in Berita, Opini
Reading Time: 3min read
0 0
A A
Perempuan dan Gerakan Lingkungan
18
VIEWS
Share on WAShare on TelegramShare on Twitter

GenPI Lampung – Isu lingkungan kerap disandingkan dengan isu perempuan. Mengingat, keduanya mengalami nasib yang sama, di mana mereka mengalami eksploitasi, degradasi, termarginalkan, tersubordinat dan tidak jarang juga mengalami opresi. Perlakuan inilah kemudian mendorong lahirkan gerakan ekofeminsime yang memiliki agenda utama yaitu menuntut terpenuhinya hak-hak lingkungan dan perempuan sebagai makhluk hidup.

Lahirnya gerakan ekofeminsime tidak lepas dari jasa Francoise d’Eaubonne yang mengenalkan Revolusi Ekologis. Ia sangat meyakini bahwa perempuanlah yang memiliki potensi untuk melakukan revolusi tersebut, sebab kedekatannya dengan konsep Ibu Bumi (Mother’s Nature). Kerusakan ekologis yang disebabkan oleh desforestasi, pemanasan global, perubahan iklim, alih fungsi lahan dan punahnya keanekaragaman hayati menjadi akibat dari munculnya dominasi maskulinitas laki-laki. Sehingga ia pun lebih memilih memberikan kepercayaan kepada perempuan untuk melakukan Revolusi Ekologis.

Namun, mengakarnya budaya patriarki, pemikiran antropologis dan endrosentris seringkali menjadi hambatan bagi perempuan dalam menyelamatkan alam dan hak-haknya sebagai makhluk hidup yang setara di bumi. Munculnya pola pikir maskulin yang sejauh ini masih tertanam membuat hak-hak perempuan dan alam menjadi termarginalkan. Padahal, perempuan dan alam memiliki kesempatan untuk sama-samma eksis dan berkontribusi bagi keberlanjutan ekosistem kehidupan yang ada. Karen J. Warren mengungkapkan bahwa cara pikir hierarkis, dualistik dan menindas adalah pola pikir maskulin yang telah mengancam keselamatan perempuan dan alam. Pola pikir inilah yang seharusnya dirubah dengan pola pikir yang lebih etis, di mana lebih mengedepankan keseimbangan dan kesetaraan dalam hidup.

Tidak sedikit, potret para perempuan dalam menyelamatkan lingkungan mengalami hambatan. Beberapa contoh gerakan perempuan dalam upaya penyelamatan alam yang sangat heroik yakni seperti gerakan Chipko di India dan Green Belt Movement di Kenya. Gerakan Chipko merupakan gerakan yang diinisiasi oleh Vandana Shiva bersama para perempuan dari organisasi akar rumput di India. Mereka sepakat untuk mengehentikan penebangan hutan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dengan cara memeluk erat-erat pohon-pohon yang hendak ditebang dengan mesin. Upaya yang mereka lakukan tersebut selain untuk melindungi hutan (hutan bagi orang India memiliki makna sakral atau disebut Aranya Sanskrit), namun juga demi menjaga keberlangsungan hidup mereka. Mengingat, pohon memberikan empat kebutuhan bagi rumah tangga, yaitu makanan, bahan bakar, kebutuhan rumah dan penghaasil ekonomi rumah tangga. Sehingga, musnahnya pohon akan menyulitkan para perempuan, terutama mereka yang tinggal di desa dan bergantung pada hasil hutan.

Selanjutnya, Green Belt Movement atau Gerakan Sabuk Hijau, merupakan gerakan yang dipelopori oleh konservasionis Kenya bermana Wangari Maathai. Gerakan ini muncul akibat adanya desforestasi dan diskrimiminasi terhadap perempuan di Kenya. Wangari Maathai bersama para perempuan di Kenya melakukan gerakan penanaman pohon (reboisasi) untuk memulihkan kembali kondisi hutan yang rusak. Menurutnya, apa yang telah diambil dari alam harus dikembalikan kepada alam. Meskipun gerakan yang dilakukan oleh Wangari Maathai bertentangan dengan pembangunan rezim pemerintahan pada saat itu, tapi pada akhirnya Green Belt Movement mampu menghadirkan reformasi lingkungan di Kenya.

Baca juga

Menparekraf RI Sandi Uno Ajak Komunitas Ciptakan Lapangan Kerja

Kades Ponco Rejo : Kita Paham Sekali Dengan Pak Watoni Anggota DPRD Lampung

Watoni Anggota DPRD Lampung adakan Reses : Warga Way Ratai Keluhkan Sistem Zonasi Pada PPDB

Load More

Gerakan ekofeminisme yang dipelopori oleh para perempuan tidak berhenti hanya pada perjuangan yang dilakukan oleh Vandana Shiva dan Wangari Maathai saja. Masih banyak contoh perjuangan para perempuan dalam menyelamatkan alam dan hak-hak mereka yang hingga saat ini masih berjalan. Seperti perjuangan Mama Aleta Baun yang memperjuangkan lingkungan sekitar Gunung Mutis dari penambangan marmer dan Gunarti bersama para perempuan di Kendeng melawan operasi industri ekstraktif pabrik semen yang megancam sumber air, ekosistem dan mata pencaharian para petani. Perjuangan mereka menjadi bentuk keseriusan para perempuan dalam mewujudkan keadilan dan usaha mengembalikan kembali keseimbangan alam. Mengingat penindasan yang dialami oleh para perempuan juga di alami oleh alam.

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para perempuan menyakinkan bahwa perempuan menjadi penggerak yang akan terus memperjuangkan hak-haknya dan berupaya melawan penindasan terhadap alam. Perjuangan yang mereka lakukan menjadi bentuk kesadaran mereka terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem kehidupan yang ada di bumi, di mana manusia, alam dan mahkluk hidup lainnya harus terpenuhi hak-haknya secara adil. Sehingga, dapat terwujud ekosistem kehidupan yang setara, adil dan berkelanjutan.

Penulis : Mustika Edi Santosa (Sekjend GenPI Lampung)

SendShareTweet

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

Menparekraf RI Sandi Uno Ajak Komunitas Ciptakan Lapangan Kerja
Berita

Menparekraf RI Sandi Uno Ajak Komunitas Ciptakan Lapangan Kerja

by GenPI Lampung
15 September 2023
0

Jawa Tengah – Menparekraf Sandi Uno hadir di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah dalam kegiatan Nemuin Komunitas (Netas) pada Kamis (14/09/2023). Dalam...

Read more

Kades Ponco Rejo : Kita Paham Sekali Dengan Pak Watoni Anggota DPRD Lampung

Watoni Anggota DPRD Lampung adakan Reses : Warga Way Ratai Keluhkan Sistem Zonasi Pada PPDB

Reses : Masyarakat Keluhkan Harga Singkong Anjlok Kepada Ketut Rameo Anggota DPRD Lampung

Reses : Hanifah Anggota DPRD Lampung Serap Aspirasi Warga Muslimat NU Negerikaton Pesawaran

POPULER

  • 10 Destinasi Prioritas Kabupaten Lampung Tengah, Apa Saja?

    10 Destinasi Prioritas Kabupaten Lampung Tengah, Apa Saja?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Spot Foto yang Instagramable, Pintu Langit 2, Teluk Betung- Bandar Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menikmati Pesona Wisata Pantai Batu Lapis Yang Unik, Kalianda Lampung Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seruit, Kuliner Santap Bersama Khas Lampung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 15 Tempat Wisata di Kabupaten Lampung Barat Terbaru dan Terhits Dikunjungi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

@genpi_lampung

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to to refresh it.
Facebook Instagram

GENPI

GenPI adalah singkatan dari Generasi Pesona Indonesia, komunitas relawan yang cinta Pariwisata.

Pengurus – Tugas dan Peran – FAQ

 

KATEGORI

Berita – Destinasi – Ekraf – Kuliner – Foto

 

LAMAN

Home – Tentang Blog – Redaksi – Kirim Konten – Kontak

© 2021 Genpilampung.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Destinasi
  • Ekraf
  • Kuliner
  • Foto
  • Opini

© 2021 Genpilampung.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In