GenPI Lampung – Di Lampung jumlah desa 2435 dan kelurahan 205 total 2640 berada pada 15 Kabupaten dan Kota. Kepala Desa dan Lurah tidak mungkin mengandalkan dana desa untuk membangun fisik saja. Ada banyak pekerjaan lain di antaranya membangun Badan Usaha Milik Desa/kampungkampung dan lebih penting membangun sumber daya manusia penggerak. Kerja-kerja kolektif dibutuhkan membangun kemajuan desa. Anggaran Desa harus menyasar pada fasilitas yang menumbuhkan ekosistem kreatifitas masyarakat. Mulai dari sarana olahraga berstandar, internet desa, fasilitas wisata jika punya potensi, dan pengembangan BUMDes bukan hanya ritual papan nama sekadar melaksanakan amanat undang-undang. BUMDes harus benar-benar di buat roadmap sesuai dengan karakteristik potensi dan mata pencaharian masyarakat.
Sabtu malam saya kedatangan teman-teman #ayokedamraman. Mereka melihat kampung kopi payungi ramai kemudian tertarik untuk membuat ruang berkumpul dan diskusi anak-anak muda di Srisawahan Lamteng. Kebetulan ada rumah kosong milik Panji Laksono Bayu Aji dengan area yang sangat luas dekat Dam Raman. Jika ada tempat ngopi yang asyik pasti mereka akan betah kumpul di desa. Tidak perlu mahal-mahal, kopinya 5 ribuan atas alasan kere hore bisa jadi akan menumbuhkan interaksi dan memunculkan ide ide menarik untuk pembangunan desa.
Malam itu ada 2 hal yang mereka ceritakan pertama Aglaonema sudah sangat membantu perekonomian. Jefri Firmansyah bercerita hasil Bunga Aglaonema dibelikan sapi dan sekarang sudah ada 6 sapi. Mahasiswa S1 PBS IAIN Metro ini dulu adalah Bendahara gerakan #ayokedamraman. Sedangkan Farid yang sekarang sudah kuliah di UM Metro punya hobi sebagai Pawang Sapi dan menjinakkan banyak sapi untuk bisa dinaiki layaknya kuda. 😄
Mereka bercerita bahwa gerakan ayo ke Dam Raman yang menempa mereka jadi kreatif. Bahwa pemberdayaan membuat mereka harus saling bekerjasama dan menemukan ide-ide lain selain wisata alam. Dam Raman masih ada pengunjung meskipun tidak seramai dulu, karena wisata air ini punya kendala wilayah perbatasan milik Balai Pengairan. Mereka menarik kreatifitas masuk ke desa. Selain umumnya petani, mereka terus mengembangkan bunga, peternakan hewan, budidaya lebah, dan yang banyak menyerap tenaga kerja mas Hely Sumanto dengan pembibitan sayuran.
Di sini lain Payungi University menerima peserta sekolah desa dari Danau Bekri Bekri Sabtu-Minggu. Ketika saya ingat kelompok muda Danau Bekri, saya ingat komunitas #ayokedamraman. Mereka punya backgroud mirip yaitu mahasiswa dan lulusan SMA yang memilih menekuni pertanian warisan orang tua dan peternak hewan seperti kambing dan sapi. Mereka sama-sama punya semangat. Seperti halnya mimpi, imajinasi mereka ke Danau Bekri adalah Camping, spot selfie, outbond dan lainnya. Pemerintah dan kepala desa harus banyak bersyukur punya pemuda yang mulai sadar bergerak. Mereka tidak meminta bayaran atas inisiatif yang lahir dari bawah. Perusahaan PTPN harus mau membuka diri terhadap inisiatif warga sekitar. Diberi izin saja, saya kira sudah cukup, biarkan warga mengupayakan mandiri apa yang menjadi impian mereka.
Pemerintah kabupaten dapat melihat militansi komunitas untuk bergerak kreatif. Jika pada saatnya gerakan ini menunjukkan konsistensi dan hasilnya, maka yang dibutuhkan oleh masyarakat yang bergerak adalah fasilitas yang menunjang wisata alam ini. Menjadi penggerak butuh banyak gagasan, gerakan dan kolaborasi. Niat awal untuk membuat ekonomi maju bersama dengan mengajak warga makin kreatif dan bukan untuk kepentingan individu.
Para penggerak harus terus belajar dengan menangkap ide dari banyak tempat, dari youtube dan berkunjung ke tempat kreatif yang dapat menjadi contoh inspiratif. Selanjutnya membekali tim agar belajar branding melalui media sosial dan mempromosikan tanpa henti. Dan terakhir terus berjejaring dengan banyak kalangan agar kolaborasi dapat menambah warna-warni dalam pemberdayaan masyarakat. Memperbanyak kader penggerak adalah kunci perubahan dalam pemberdayaan.
Penulis : Dharma Setyawan (Founder www.payungi.org)


