GenPI Lampung – Ini adalah wajah-wajah bahagia emak-emak yang berjualan di kampung kuliner Bratayudha. Meski omset mereka turun di gelaran ke-5 karena hujan mereka tetap tersenyum.
Di kampung kuliner Bratayudha ada 20 pedagang yang terdaftar, ada sekitar 15 pedagang yg rutin berjualan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan yang berbeda, ada guru nonorer, buruh tani, penderes karet, dan ibu rumah tangga. Ada beberapa pedagang yang memang sudah berjualan makanan dirumah sebelumnya.
Pendaftaran pedagang di kampung Kuliner Bratayudha memang di buka secara umum untuk warga dengan syarat utama harus berKTP Bratayudha. Kami memang mengkhususkan Kampung kuliner ini untuk menghidupkan ekonomi warga kami. Pendaftaran gratis tidak di pungut biaya, pendaftar hanya mengisi folmulir dan surat pernyataan menyepakati beberapa aturan yang di buat pengurus.
Ada beberapa peraturan yang wajib dilakukan oleh pedagang, diantaranya pedagang wajib ikut gotong royong seminggu 2x, pedagang wajib membayar uang kas sebesar 15 rb untuk pengembangan kampung kuliner, pedagang wajib melaporkan omset daganganya, pedagang wajib sedekah makanan untuk relawan dan lainnya.
Kampung kuliner ini di bangun dengan prinsip gotong royong dan swadaya masyarakat. Inilah pondasi yang selalu kita jaga. Kampung kuliner ini kami bangun secara mandiri, tidak dengan dana pemerintah. awalnya kami mengumpulkan dana dari iyuran aparat kampung, pemuda karang taruna dan para pedagang. Tentunya bu kepala kampung sebagai ujung tombak dan ujung tombok.
Kami mendirikan kampung ini mungkin tidak habis 3 juta. Untuk membeli cat, lampu, paku dan lainnya. Karena keterbatasan dana, kami manfaatkan ban bekas, limbah kayu dan bambu yang ada di sekitar. Dan kami kerjakan secara gotong royong.
Alhamdulillah berkat usaha dan kerja keras ahirnya kami bisa mendirikan kampung kuliner Bratayudha dan bisa menghidupkan ekonomi warga.
Di gelaran 1 bulan pertama ini, kampung kuliner bratayudha mendapatkan omset 48.123.000. Rata-rata omset setiap gelaran sekitar 12 jt. Ini adalah akumulasi dari omset 20 pedagang, rata-rata omset mereka di bulan ini sekitar 2.4 jt. Alhamdulillah ada 20 pedagang yang hari ini mendapatkan penghasilan tambahan dari aktifitas berjualan di kampung kuliner Bratayudha bahkan melebihi pendapatan dari profesi asli mereka.
Model pemberdayaan seperti ini sangat cocok di terapakan di daerah yang tidak memiliki potensi pariwisata sekalipun. Adaisaja setiap kecamatan yang ada di way kanan ini membuat 1 kampung kuliner atau pasar kuliner saja perputaran ekonominya dahsyad, bisa menggerakan perekonomian warga.
Dengan kekuatan warga, gotong royong, dan swadaya masyarakat serta didukung denga kreatifitas, saya yakin akan lahir kampung-kampung kuliner yang baru yang dapat mrnghidupkan ekonomi warga di kabupatrn Way Kanan.
Penulis : Dani Mustofa (Ketua Genpi Way Kanan)


