GenPI Lampung – Pembangunan wisata pada dasarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah, namun juga semua lapisan masyarakat, tidak terkecuali para stakeholders yang ada. Stakeholder ini mencakup para ahli/profesional, swasta, komunitas, pelaku media dan penggerak-penggerak pariwisata. Partisipasi para stakeholders inilah yang akan menjadi power dalam merealisasikan pembangunan wisata yang sustainable dan terintegrasi secara baik.
Menumbuhkan kesadaran para stakeholders untuk aktif dan ikut berpartisipasi dalam membangun wisata merupakan tugas bersama — pemerintah dan masyarakat — yang harus dilakukan secara terus menerus. Mengingat, kesadaran mereka inilah sebagai modal pokok untuk menciptakan sebuah ekosistem destinasi wisata yang akan memberikan dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat luas.
Penumbuhan kesadaran dapat dimulai dengan memberikan edukasi kepada para stakeholders secara tepat dan terpadu. Ketersediaan ruang-ruang belajar dan diskusi yang dibangun hingga akar rumput menjadi sangat penting, agar konektivitas pengetahuan bisa terjalin sampai bawah. Artinya, semua stakeholders dapat saling terkoneksi dan mampu bersinergi dalam membangun destinasi wisata hingga di tingkat desa.
Stakeholders yang pertama adalah para ahli/Profesional. Mereka punya andil besar dalam menyumbangkan gagasannya dan membuat konsep wisata. Dengan gagasan yang mereka punya, tentu akan berguna dalam membantu membuat peta pembangunan wisata yang terintegrasi dengan sektor lainnya. Sehingga, sektor wisata dapat memberikan impact positif bagi pembangunan pada sektor lainnya.
Swasta, merupakan stakeholders yang bisa mendorong percepatan proses pembangunan destinasi wisata. Mengingat, anggaran negara sangat terbatas, adanya pihak swasta akan menjadi solusi dalam memberikan stimulan untuk mendorong percepatan pembangunan sektor wisata. Disamping juga, swasta akan mendorong terwujudnya 3 aspek pembangunan wisata yakni Aksesibilitas, Atraksi dan Amenitas.
Kemudian, peran aktif para komunitas juga sangat vital dalam proses-proses pembangunan wisata yang sustainable (berkelanjutan). Hadirnya komunitas dapat memberikan warna bagi content atraksi wisata yang ditawarkan. Sehingga, wisata yang dibangun selalu menciptakan daya tarik dan mampu memberikan pengalaman yang unik bagi para pengunjung.
Selanjutnya adalah media. Media menjadi senjata promosi bagi wisata yang ampuh untuk membuat image sebuah destinasi wisata dapat dikenal olah masyarakat luas. Media, baik offline maupun online harus terus dioptimalkan peranannya untuk mempromosikan destinasi wisata yang dibangun. Disamping, para influencer juga harus digandeng dan didorong untuk ikut membantu mempromosikan.
Terakhir yakni penggerak wisata. Penggerak wisata merupakan mitra pemerintah sekaligus menjadi salah satu motor penggerak pembangunan wisata yang sangat penting. Mereka akrab sekali dengan di dunia wisata dan memiliki pengalaman di lapangan yang bisa dibagikan kepada stakeholders lainnya. Pengalaman merekalah menjadi acuan dan pertimbangan untuk memilih destinasi apa yang cocok untuk dibangun disuatu daerah.
Terkoneksinya para stakeholders tentu akan mempermudah terealisasinya aganda-agenda pembangunan wisata yang dicanangkan oleh pemerintah. Adanya kolaborasi yang baik antar stakeholders yang ada juga akan memberikan dampak positif dan optimisme bagi pemerintah untuk menjadikan sektor wisata sebagai basis penumbuhan ekonomi kerakyatan. Kelak, wisata yang dibangun secara bersama/gotong royong dan mengedepankan nilai-nilai partisipatif inilah yang akan memiliki pondasi kuat dan terus eksis dengan inovasi-inovasi yang konsisten dikerjakan.
Penulis : Mustika Edi Santoso (Seketaris GenPI Lampung)


